goresan pena

Feb 27

Pria yang dicari

“Hah??? Lo jadian ma si Rian? Seriusan lo Ra.” Evi terlonjak kaget mendengar perkataan sahabatnya

“Iya, gw serius. Emangnya kenapa Vi? Lo gak setuju?” Tanya Rara heran

“Ya iyalah gw gak setuju. Gak pantes aja ngeliat lo jadian ma si nerd yang satu itu. Secara gitu lo ma dia kayak langit ma bumi. Lo punya segala-galanya sedangkan dia cuma pria  biasa-biasa aja malah cenderung aneh. Lo gak salah milih Ra?” selidik Evi

“Gw gak salah milih Vi. Yup, gw suka dia karena dia pria biasa.” Jawab Rara singkat

“Gue ngerasa kalian berdua gak cocok. Itu aja. Kenapa juga sih lo gak milih si Tommy. Secara gitu Tommy itu ganteng, mapan dan serasi banget ma lo. Dia juga suka banget lo, sampe ngejar-ngejar lo.” Evi membaningkan

“Gue juga gak tau Vi, gue gak ada rasa ma si Tommy.” Jelas Rara

“Terus, kenapa lo jadian ma Rian? Si nerd satu itu?” Tanya Evi

“Dia emang pria biasa-biasa aja Vi, jauh banget ma si Tommy dan cowok-cowok lain yang ngejar-ngejar gue. Entah kenapa sejak gue deket ma dia gue makin suka ma dia, dengan kesederhanaan dia dan kejujurannya. Dia udah bikin gue jujur ma diri gue sendiri dan hati gue. Dialah pria yang selama ini gue cari.”


Feb 26

Menyatakan Cinta

“Wan, lo yakin mau berangkat ke Medan?” Tanya Indra

“Yup, ini keputusan yang udah gue ambil.” Jelas Marwan meyakinkan sahabatnya

“Lo udah pikirin ini masak-masak?” heran Indra

“Gue udah mikir berkali-kali dan gue yakin ma keputusan gue.” Tegas Marwan

“Mawar emang cantik sih klo gue liat. Tapi apa lo nggak ngerasa aneh gitu?” selidik Indra

“Maksud lo, Ndra?” Marwan heran

“Gini… bukan bermaksud ngejelekin Mawar, tapi apa lo gak aneh klo cewek secantik dia masih single? Emangnya gak ada gitu cowok di Medan yang suka ma dia?” Tanya Indra

“Trus.. salah ya kalo cewek cantik masih single?” Marwan balik bertanya

“Gak sih tapi lo kan tau dia dari dunia maya, apa lo gak takut gitu. Kan banyak yg kenal di dunia maya tapi gak sesuai harapan. Siapa tau aja fotonya menipu,beda ma orang aslinya? Lo juga gak tau kepribadian orangnya seperti apa, itu yang bikin gue ragu Wan.” Jelas Indra

“Makanya gue ke medan buat nemuin orangnya.” Jawab Mawan

“Tapi gue takut jawaban dari dia bikin pengorbanan lo jadi sia-sia. Lo udah nabung selama 4 bulan cuma buat ke Medan, sebagai sahabat gue gak mau lo yang udah capek-capek nabung balik dari sana malah kecewa. Apalagi gue tau gaji lo sebagai pengajar gak seberapa.” Indra mengungkapkan kekhawatirannya.

“Gw tau kekhawatiran lo sebagai sahabat, tapi lo juga tau gue kan. Buat gue pengorbanan yg gue lakukan ini gak sia-sia. Entah nanti jawaban dia bikin gue bahagia atau kecewa. Buat gue yang terpenting gue udah nyatain cinta di depan orangnya langsung. Gue gak mau nyatain cinta cuma lewat telepon. Itu aja.”


Dec 4

Diskiminasi pendidikan di Indonesia

Kemarin dihebohkan oleh peristiwa ditolaknya anak penderita HIV/AIDS oleh pihak sekolah, lalu banyak bilang terjadi diskriminasi oleh sekolah, jujur saja sebenernya saya tertawa bacanya. Saya tertawa bukan karena berita itu tapi karena diskriminasi pendidikan di Negara ini sudah sangat parah.

Terus apa buktinya? Pasti banyak yang bertanya seperti itu. Sekarang mari lihat sekitar kita. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan bagus hanya bias didapat oleh orang-orang menengah keatas. Kalau orang miskin hanya dapat pendidikan yang seadanya, dengan atap bocor, plafon dan dinding yang hampir rubuh. Itu realita yang ada saat ini. Bukankah itu juga sebuah diskriminasi?

Pendidikan untuk kaum-kaum yang terpinggirkan kadang tidak dipikirkan oleh Negara. Bahkan untuk perbaikan sekolah yang menjadi sarana utama pendidikan kadang haus menunggu bertahun-tahun untuk diperbaiki. Dan itu pun diperbaiki dengan setengah hati, dan dengan dana yang mampir kesana kemari.

Entah bagaimana dengan bangunan-bangunan sekolah di pelosok sana. Di pinggiran ibukota pun masih ada sekolah yang bahkan hampir rubuh.


MENGAJAR BUKAN PEKERJAAN TAPI SEBUAH PENGABDIAN

Saat ini mengajar hanya sebatas pekerjaan, bukan lagi sebuah pengabdian yang tulus untuk mencerdasan anak bangsa. Mengajar hanya menjadi rutinitas sehari-hari bukan lagi panggilan hati. Mengajar memang mudah, hanya dibutuhkan sedikit ilmu lalu men-transfernya ke anak didik. Tapi ternyata mengajar tidak hanya sebatas itu saja, ada kepribadian/sikap anak didik yang harus dibentuk. Itu yang sulit pada saat ini, dimana guru dibebankan itu semua.Pembentukan sikap/kepribadian anak didik sekarang ini tidak lagi ditanamkan di keluarga, tapi  dibebankan kepada guru, dimana kedua orangtua sibuk bekerja.

Mengajar saat ini hanya sebuah pekerjaan dimana tidak ada minat ataupun panggilan hati untuk mengajar. Saat ini peran guru sudah tidak lagi digugu dan ditiru. Guru hanya menjadi penyalur ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru tidak lagi sebagai orangtua. Kadang ada segelintir guru yang kepribadiannya tidak patut digugu dan ditiru. Guru seharusnya menjadi teladan bagi anak didiknya. Tapi sekarang ini sulit menemukan guru yang seperti itu.

Guru tidak sebatas hanya mengajarkan ilmu apa yang dia ketahui, tapi mengajarkan sikap dan keteladan yang baik bagi anak didik. Gurulah yang dapat membentuk pribadi-pribadi perubah zaman. Guru juga yang dapat menetukan kemajuan/kemunduran suatu bangsa.

Menjadi guru berarti memperbaiki kepribadian diri.Karena apapun yang kita lakukan menjadi role-model bagi anak didik.

Menjadi guru berarti mengabdikan diri dengan sepenuh jiwa raga untuk menciptakan manusia-manusia yang jauh lebih baik.

Menjadi guru berarti bersiap dengan segala macam karakteristik anak didik.

Menjadi guru berarti terus belajar, belajar memahami anak didik, belajar menjadi pribadi yang harus diteladani, belajar ilmu dan mengamalkannya dengan sepenuh hati.


Nov 18

Nov 12
“mereka menertawakanku karena aku BERBEDA… tp aku menertawakan mereka lebih keras…. karena mereka semua SAMA”